MENGANALISIS JURNAL KEPEMIMPINAN DAN INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN (PENGALAMAN PONDOK GONTOR VII PUTRA SULAWESI TENGGARA)
Nama: Slamet Fadillah (19010103060)
Kelas: MPI B
Perilaku organisasi
Analisis yang saya buat kali ini mengambil jurnal yang bersumber dari ejournal.iainkendari.ac.id. Seperti yang kita ketahui bersama, lembaga pendidikan islam seperti pesantren, madrasah, dan sekolah islam lainnya masih kurang di pandang untuk menjadi tujuan utama orang tua untuk memasukan anaknya ke dalam lembaga tersebut sehingga lembaga pendidikan islam masih nomor dua di banding pendidikan umum. Padahal sekolah sekolah berbasis agama seharusnya menduduki posisi strategis karena merupakan ujung tombak dalam mewujudkan Negara yang ber-ketuhanan yang maha esa. Terlebih lagi faktanya sekarang menunjukan penurunan drastic karakter kita sebagai bangsa dengan maraknya praktek kejahatan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, tawuran pelajar, narkoba dan sebagainya.
Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, bahkan lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Kehadirannya populer disebut sebagai fenomena desa karena umumnya berada di luar perkotaan. Kondisi zaman yang berubah cepat telah menciptakan polarisasi model pesantren, salaf dan khalaf. Secara substantif dua model tersebut merupakan respon atas perubahan-perubahan eksternal yang dalam luas disebut inovasi. Walaupun demikian, perbedaan antara kedua model pesantren tersebut sudah Pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam khas Indonesia, bahkan lembaga pendidikan tertua di Nusantara. Kehadirannya populer disebut sebagai fenomena desa karena umumnya berada di luar perkotaan. Kondisi zaman yang berubah cepat telah menciptakan polarisasi model pesantren, salaf dan khalaf. Secara substantif dua model tersebut merupakan respon atas perubahan-perubahan eksternal yang dalam luas disebut inovasi.
Walaupun demikian, perbedaan antara kedua model pesantren tersebut sudah makin menipis saat ini. Inovasi dalam manajemen pesantren akhir-akhir ini menunjukkan kemajuan yang berarti. Hal ini disebabkan oleh kesadaran internal pengasuh bahwa pesantren merupakan lembaga berbasis masyarakat yang tidak mendapatkan sokongan pemerintah, terutama dalam pembiayaan. Sehingga pesantren harus mengerahkan segala potensi yang ada untuk dapat survive dalam kompetisi antar lembaga pendidikan dan membuat siswa memiliki beberapa keunggulan seperti kemampuan dua bahasa, kewirausahaan, kemandirian keuangan, dan jaringan antar lembaga.
Pondok Gontor VII Putra Sulawesi Tenggara yang merupakan jenis pesantren khalaf, menunjukkan bahwa inovasi-inovasi dapat dilakukan melalui kepemimpinan Kiayi. Pondok Gontor VII kendari (yang merupakan cabang dari Pondok Modern Gontor Ponorogo, Jawa Timur) merupakan salah satu Pondok Pesantren yang mampu melakukan akselerasi di tengah pesimisme atas lembaga pendidikan Islam, baik itu pesantren, madrasah maupun sekolah Islam. Pondok Gontor VII mampu menjadi magnet dalam pendidikan di Sulawesi Tenggara dan provinsi sekitarnya. Pada tahun ajaran 2013 santri yang aktif mencapai angka 1500 orang dan tahun 2014 telah siap menerima jumlah yang sama karena fasilitas penunjang telah tersedia.
Beberapa keunggulan yang menjadi daya tarik besar masyarakat Sulawesi Tenggara dan sekitarnya untuk memasukkan anak ke Pondok Gontor VII, seperti: Pertama, kemampuan dua bahasa (bilingual). Kedua, kewirausahaan (entrepreneurship), dimana para santri dilatih untuk terampil dalam bidang kewirausahaan seperti: peternakan, pertukangan, koperasi, pertanian, menjahit. Ketiga, kemandirian keuangan (Chizanah), yakni penyelenggaraan pondok yang tidak bergantung pada bantuan dari luar maupun kucuran dana dari pimpinan pusat. Keempat, jaringan antar lembaga (nerworking), dimana pondok Gontor VII memiliki jaringan antar lembaga pendidikan, maupun instansi pemerintah, di dalam maupun luar negeri.
Telah dikemukakan sebelumnya bahwa pesantren merupakan lembaga khas Indonesia, dan sering pula disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Dalam rentang sejarah yang panjang, pesantren telah memberikan sumbangsih besar terhadap pembangunan nasional. Dinamika kesejarahan yang panjang telah menarik perhatian para peminat kajian pendidikan maupun manajemen lembaga untuk melakukan kajian dari berbagai aspek tentang pesantren.
Said Aqiel Siradj dkk menggulirkan wacana tentang Pesantren Masa Depan: Wacana Pemberdayaan dan Transformasi Pesantren5. Gagasangagasan yang muncul merupakan renungan atas esensi ajaran Islam dan persinggungannya dengan dunia kontemporer, serta resonansinya atas konteks ke-Indonesiaan. Dalam konteks itulah pesantren diharapkan melakukan pergulatan internal dalam rangka memberikan energy positif bahkan turun tangan atas masalah-masalah kekinian. Akan tetapi terlebih dahulu dimulai dengan melakukan pembenahan kembali terhadap system pendidikan pesantren yang lebih terpadu, serta membangun perspektif baru terhadap tradisi-tradisi yang berkembang di pesantren seperti kitab kuning dan sebagainya.
Pendirian Pondok Modern Gontor VII Putra Kendari berawal dari keinginan Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara menghadirkan Pondok Pesantren yang besar di Sulawesi Tenggara. Inisiatif pertama adalah berupaya memindahkan salah satu pesantren yang berada di dalam Kota Kendari ke Bekas lokasi Bumi Perkemahan di Kecamatan Landono. Akan tetapi usaha ini tidak berhasil karena pihak yayasan Ummu Shabri menolak pindah. Melalui seorang alumni Pondok Gontor Ponorogo asal Sulawesi Tenggara (Muh. Oheo Sinapoy), Pemerintah Daerah mencoba menjalin hubungan dengan Pondok Gontor Pusat agar dapat merintis Cabang Gontor di Kendari. Pada tanggal 24 Rabiul Tsani 1423 / 5 Juli 2002 di Kendari diadakan kesepakatan bersama antara pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara sebagai pihak I yang diwakili oleh Gubernur Sulawesi Tenggara, Drs. H. La Ode Kamaimoedin dengan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jawa Timur sebagai pihak ke II yang diwakili oleh KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA, tentang; pendirian dan pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor VII “Riyadatul Mujahidin” Pudahoa, Landono, Kendari, di atas tanah seluas 1000 hektar milik pemerintah Propinsi Sulawesi Tenggara. Untuk selanjutnya pengelolaan dan tanggungjawab serta peningkatan mutu Pondok Modern Darussalam Gontor VII Riyadatul Mujahidin sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pondok Modern Darussalam Gontor.
Kepemimpinan dalam tradisi pesantren berpusat pada Kiay, demikian juga dengan kepemimpinan pada Pondok Gontor VII Putra Kendari. Walau demikian, figur Kiay tidak kemudian menjadi seorang yang diktator ataupun otoriter. Hal ini disebabkan praktek kepemimpinannya berada didalam kerangka nilai-nilai dasar dan luhur, yang menjadi pedoman dalam pengelolaan pondok. Dalam konteks ini, penghargaan terhadap eksistensi komponen-komponen di internal pondok mendapat posisi penting dalam praktek kepemimpinan Pondok Gontor VII Kendari. Karena kepemimpinan Pondok Modern Gontor itu harus memenuhi 14 (empat belas) kualifikasi: 1) ikhlas. 2) Selalu mengambil inisiatif. 3) Mampu membuat jaringan kerja dan memanfaatkannya. 4) Dapat dipercaya. 5) Bekerja keras dan bersungguh-sungguh. 6) Menguasai masalah dan dapat menyelesaikannya. 7) Memiliki integritas tinggi. 8) Memiliki nyali tinggi dan tidak takut resiko. 9) Jujur dan terbuka. 10) Siap berkorban. 11) Tegas. 12) Cerdas dalam melihat, mendengar, mengevaluasi, menilai, memutuskan dan menyelesaikan. 13) Mampu berkomunikasi. 14) Baik dalam bermu’amalah Ma’a Allah dan Mu’amalah Ma’a An Nas.
Empat belas poin kepemimpinan Pondok Gontor inilah yang menjadi kerangka acuan bagi setiap pemimpin dalam mengembangkan maupun melakukan inovasi-inovasi kelembagaan. Tidak dapat dipungkiri bahwa prestasi atau capaian positif yang diraih oleh sebuah lembaga dipengaruhi oleh peran pimpinan di dalamnya. Kartono, menyatakan bahwa efektifitas kepala sekolah dilihat dari bagaimana peran kepala sekolah berinteraksi dan bekerja sama dengan bawahannya, bagaimana kepala sekolah meningkatkan produktifitas bawahannya, dan bagaimana kepala sekolah menjadikan sekolah itu berprestasi15. Jika dibawa dalam konteks kepemimpinan Kiay di Pesantren tentu saja pandangan Kartono tersebut sejalan dengan empat belas poin kepemimpinan ponndok Gontor. Untuk dapat melakukan inovasi-inovasi, pimpinan Pondok tentu harus memberdayakan kekuasaan (power) maupun pengaruh (influence) yang dimilikinya.
Pondok Modern Gontor VII Putra Kendari merupakan lembaga Pendidikan Islam di Sulawesi Tenggara yang menunjukkan keberhasilan dalam pengelolaan lembaganya. Di samping peningkatan signifikan santri yang masuk, juga terlihat pada inovasi-inovasi yang dilakukan dan menjadi keunggulan pondok, di antaranya: penguasaan multi bahasa, kewirausahaan (entrepreneurship), kemandirian keuangan (chizanahtullah), dan jaringan kerja yang luas (networking). Kepemimpinan menjadi faktor penting dalam menghadapi perubahan keorganisasian, melakukan respons terhadap krisis18, dan menggunakan semua pontensi organisasi dalam rangka pertumbuhan (growth) dan tercapainya tujuan organisasi. Kepemimpinan Kiay pada Pondok Modern Gontor VII Putra berdiri atas 14 (empat belas) poin kualifikasi kepemimpin yang menjamin keberlangsung hidup Pondok Gontor VII Putra kendari. Inovasi dalam pengelolaan Pondok Gontor VII Putra Kendari merupakan pancaran (emanasi) dari Kepemimpinan Kiay, penghayatan terhadap budaya organisasi, keyakinan yang kuat tentang citacita bersama, dan sinergi semua komponen di dalamnya
Post a Comment for "MENGANALISIS JURNAL KEPEMIMPINAN DAN INOVASI LEMBAGA PENDIDIKAN (PENGALAMAN PONDOK GONTOR VII PUTRA SULAWESI TENGGARA)"