Makalah Makkiyah dan Madaniyyah
MAKALAH UULUMULQUR’AN
MAKKIYAH DAN MADANIYAH
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Ulumul Qur’an, dengan judul: “Makkiyah dan Madaniyyah”.
Kami menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang dengan tulus memberikan doa, saran dan kritik sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna di karenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi perkembangan pendidikan.
Kendari, Maret 2021
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………….
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………..
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………..
A. Latar Blakang……………………………………………………………….
B. Rumusan Masalah………………………………………………………….
C. Tujuan………………………………………………………………………..
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah…………………………………….
B. Dasar penetapan Makkiyah dan Madaniyah……………………………..
C. Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah……………………………………
D. Faidah memahami perbedaan surat Makkiyah dan Madaniyah…………
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al qur’an merupakan qalam Allah SWT. Yang di turunkan kepada nabi Muhammad SAW. Melalui perantara malaikat jibril dengan lafazd dan maknanya. Al qur’an merupakan sumber yang pertama dan yang utama dalam petunjuk keilmuan bagi seluruh umat islam. Di dalam al qur’an juga terdapat banyak istilah istilah, salah satunya adalah makkiyah dan madaniyah.
Dalam perkembangan keilmuan dalam dunia islam, turunnya wahyu terdapat berbagai istilah istilah yang muncul dalam pengkajian atau studi al qur’an. Salah satunya adalah pembahasan makkiyah dan madaniyah. Kedua kata tersebut muncul di ambil dari dua kota besar di jazirah arab, yaitu kota mekah dan kota madinah. Kata makkiyah dan madaniyah merupakan salah satu dari penjelasan jenis jenis ayat atau surah surah yang ada di dalam al qur’an. Makkiyah dan madaniya tentunya mempunyai perbedaan di dalamnya yang bermacam macam dan juga mempunyai dasar penerapan sehingga suatu surah atau ayat bisa di sebut atau di masukan dalam kategori makkiyah dan madaniya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian makkiyah dan madaniyah?
2. Apa saja dasar penerapan makkiyah dan madaniyah?
3. Apa perbedaan makkiyah dan madaniyah?
4. Apa faidah memahami perbedaan surat makkiyah dan madaniyah?
C. Tujuan
1. Agar dapat mengetahui pengertian tentang makkiyah dan madaniyah.
2. Agar dapat mengetahui dasar penerapan makkiyah dan madaniyah.
3. Agar dapat mengetahui perbedaan makkiyah dan madaniyah.
4. Agar dapat mengetahui faidah memahami perbedaan surat makkiyah dan madaniyah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN MAKKIYAH DAN MADANIYA
Di kalangan para ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasalr untuk menentukan suatu surat atau ayat bahwa surat atau ayat itu Makkiyah dan Madaniyah. Banyak yang menyebutkan bahwa Makkiyah turun di kota Makah dan surat Madaniyah turun di kota Madinah, atau juga apabila awal surat Makkiyah dimullai denlgan kata ya ayuha al-nas disebut surat Makkiyah, dan dimulai dengan ya ayyuha al-ladzina amanuu itu disebut surat Madaniyah.
Para ulama tersebut ada yang membedakan ayat-ayat dan surat surat Makkiyah dan Madaniyah dalam al-Qur’an. Ada juga yang menjadikan khihtab (sasaran pembicaraan) yang ada di dalam ayat sebagai dasar untuk membedakan keduanya. Dan ada juga yang bersandar kepada hijrah rosul SAW. Sebagai dasar pembedanya pendapat pendapat tersebut antara lain:
1. Perbedaan berdasarkan karakteristik personal ayat dan surat. Para ulama mengatakan bahwa Makkiyah adalah ayat dan surat yang di dalamnya terdapat kata ya ayuha al-nas, sebab ayat tersebut khithab bagi penduduk makah. Adapun Madaniyah adalah terdapat kata ya ayuha al-ladzina amanuu dan dengan anggapan bahwa penduduk madinah telah menjadi muslim.
2. Perbedaan berdasarkan tempat Para ulama beranggapan bahwa tempat rosullullah menerima wahyu sebagai dasar pembeda.
3. Perbedaan berdasarkan waktu Yang dimaksud ialah menjadikan hijrah Nabi sebagai pembeda. Yaitu ayat-ayat Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum Nabi hijrah ke madinah, meskipun turunnya bukan di makah. Namun pendapat itu mempunyai kelemahan-kelemahan, di antaranya:
a. Tidak selalu ayat atau surat dimulai dan ada dengan seruan ya ayyuha al-nas dan ya ayuha al-dziina amanu. Misalnya suratal- Ahzhab ayat 1.
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللَّهَ وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا
Hai Nabi, bertaqwalah kepada Allah dan janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik.
b. Tidak selalu ayat atau surat yang dimulai dengan seruan ya ayuha al-nas adalah Makkiyah, dan tidak pula selalu ayat atau surat yang dimulai dengan seruan ya ayuha al-adziina amanuu adalah surat Madaniyah. Misalnya surat an-Nisa’ adalah Madaniyah permulaannya adalah ya ayuha al-nas (perhatikan suratan-nisa’ayat 1):3
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ
Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri.
Secara garis besar, surat-surat dalam Alquran terbagi atas dua bagian, yaitu surat-surat makkiyah dan surat-surat madaniyah. Dalam studi Alquran, ilmu makkiyah dan madaniyah merupakan bidang kajian yang membedakan fase penting turunnya al-Alquran baik pada tataran isi maupun struktur. Para ulama berbeda pendapat mengenai apa yang dimaksud dengan makkiyah dan madaniyah, khususnya terkait batasan antara mana yang makkiyah dan mana yang madaniyah, baik dari sisi isi maupun strukturnya. Oleh karena itu, ada beberapa pandangan yang dapat kita telusuri di kelompokkan berdasarkan teori di bawah ini untuk menentukan definisi makkiyah dan madaniyah:
1. Teori Geografis
Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang turun di Makkah, baik waktu turunnya sebelum Rasulullah SAW hijrah maupun sesudahnya. Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang turun di Madinah baik waktu turunnya sebelum Rasulullah SAW hijrah maupun sesudahnya.[1]
Namun, pada kenyataanya ada beberapa ayat Al-Qur'an yang tidak turun di wilayah Makkah ataupun Madinah, seperti tempat turunnya Q.S At-Taubah: 42 adalah di Tabuk, Q.S Az-Zukhruf: 45 di Baitul Maqdis (Palestina) pada malam Isra Mi'raj.[2]
Hal ini merujuk pada H.R At-Thabrani dari Abu Umamah: Rasulullah SAW bersabda; Al-Quran di turunkan di 3 tempat: Makkah, Madinah, dan Sham. Walid berkata: Maksudnya Baitul Maqdis? Kathir Berkata; Tetapi penafsirannya di Tabuk adalah lebih baik
2. Teori Historis
Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah meskipun ayat tersebut turun di luar kota Makah, semisal di Mina, Arafah atau Hudaibiyah dan lainnya. Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang turun sesudah Rasulullah SAW hijrah, meskipun ayat tersebut diturunkan di Badar, Uhud, Arafah atau Makah.[3]
Banyak sekali yang mendukung Teori ini. Mulai dari Ulama Klasik, Modern, hingga ulama kontemporer saat ini. Adapun yang menjadi kelebihan rumusan teori ini adalah karena mencakup keseluruhan ayat atau surah Al-Qur'an, sehingga dapat dijadikan ketentuan dan rujukan yang memadai.
Adapun Teori ini merujuk pada H.R Abu Amr Uthman bin Sa'id ad-Darimi yang disandarkan pada Yahya bin Salam;[4]
Ayat yang diturunkan di Makkah dan ayat yang diturunkan dalam perjalanan menuju Madinah sebelum Nabi SAW tiba di Madinah, maka ia termasuk kategori ayat Makkiyah. Dan ayat yang diturunkan kepada Nabi SAW dalam perjalanannya setelah beliau tiba di Madinah, maka ia masuk kategori ayat Madaniyah.
Sedangkan kelemahannya hanya terletak pada kejanggalan beberapa ayat atau surah Al- Qur'an yang nyata-nyata turun di Makkah tetapi karena turun sesudah Hijrah, lalu ia dianggap Madaniyah. Seperti Q.S Al-Maidah; 3, Q.S An-Nisa; 8. Ayat tersebut turun di kota Makkah sewaktu Nabi saw berada di dalam Ka'bah.[5]
3. Teori Subjektif
Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang berisi pangilan kepada penduduk Mekkah dengan panggilan "wahai manusia", "wahai orang-orang yang ingkar", "wahai anak adam". Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang berisi panggilan kepada penduduk Madinah dengan panggilan "wahai orang-orang yang beriman". Kelebihan teori ini ialah rumusannya dimengerti, dan lebih cepat dikenali dengan kriteria panggilan (nida, khitab) yang khas dari keduanya tersebut.
Namun, teori ini banyak kelemahan pula di antaranya: Rumusan pengertiannya tak dapat dijadikan ketentuan, karena tak dapat mencakup seluruh ayat Al- Qur'an. Dari keseluruhan ayat Al- Qur'an yang berjumlah 6236 ayat, hanya ada 511 ayat yang dimulai dengan panggilan (nida), dan dari 511 ayat tersebut, yang dimulai dengan panggilan (nida) yang khas Makkiyah berjumlah 292 ayat, dan yang khas Madaniyah berjumlah 219 ayat.[7]
Selain itu, ada beberapa ayat yang dimulai dengan panggilan (nida) bukan termasuk ayat Makkiyah seperti: Q.S Al- Baqarah: 21, Q.S An-Nisa : 1, Q.S An-Nisa: 133
4. Teori Content Analysis
Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang memuat cerita umat dan para Nabi terdahulu. Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang berisi tentang hudud, faraid, dan sebagainya.[8]
Teori ini didasarkan pada salah satunya Riwayat Hisham dari ayahnya, Al-Hakim;[9]
Semua surah yang memuat aturan-aturan, ketentuan-ketentuan, maka ia termasuk Surah Madaniyah, dan semua surah yang memuat tentang peristiwa masa lampau, maka ia masuk kategori Makkiyah.
B. Dasar penetapan Makiyah dan Madaniyah
Dalam al-Burhan fi Ulum, diuraikan bahwa ada dua cara untuk mengenali ayat dan surat yang termasuk kategori makkiyah dan madaniyah, yaitu cara sima’iy dan qiyasiy. Pengenalan cara sima’iy adalah pengetahuan ayat dan surat makkiyah dan madaniyah yang diperoleh berdasarkan riwayat. Sedangkan pengenalan cara qiyasiy adalah pengetahuan ayat dan surat makkiyah dan madaniyah berdasarkan kriterianya yang menonjol tersebut, antara lain; melalui ciri khitabnya, kandungannya, redaksi dan uslubnya, dan sebagainya.
Menurut cara qiyasiy, ada dua pijakan yang dijadikan acuan yakni (As-Suyuthi, al-Itqan fi UlumAl-Alquran)
1. Dasar aghlabiyah
Suatu surat bila mayoritas ayat-ayatnya adalah makkiyah, surat tersebut disebut makkiyah. Demikian juga sebaliknya, jika mayoritas ayat-ayatnya adalah madaniyah, surat tersebut disebut madaniyah.
2. Dasar tabi’iyah
Suatu surat jika didahului dengan ayat-ayat yang turun di Makkah (sebelum hijrah), surat tersebut disebut makkiyah. Demikian juga sebaliknya, jika didahului dengan ayat-ayat yang turun di Madinah (sesudah hijrah), surat tersebut disebut madaniyah.
C. Perbedaan makkiyah dan madaniyyah
Selama ini, sebagian dari kita hanya memahami perbedaan surat makkiyah dan madaniyah hanya pada tempat turunnya wahyu. Namun ada hal lain yang harus juga diketahui tentang surat makkiyah dan madaniyah. SecaraSecara umum Makkiyah adalah surat yang turun di kota Makkah, dan Madaniyah adalah surat yang turun di kota Madinah. Namun, surat Makkiyah tidak selalu turun di kota Makkah. Pun demikian juga dengan surat Madaniyah, tidak selalu turun di kota Madinah.
Tolok ukur sebenarnya bukan pada di mana surat-surat itu turun, tapi pada hijrahnya Rasulullah. Makkiyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum berhijrah ke Madinah. Madaniyah adalah wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah berhijrah ke Madinah.
Seperti surat Al Maidah ayat 3, surat ini diturunkan di kota Makkah. Namun tetap disebut surat Madaniyah karena turun setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah, jauh setelah fathu makkah ketika beliau melaksanakan haji wada’ (haji perpisahan).
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah : 3) Diriwayatkan dari Umar radhiyallahu ‘anhu bahwasanya dia mengatakan, “Kami tahu hari itu dan tempat wahyu tersebut turun kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wahyu tersebut turun sementara Rasulullah sedang berdiri berkhutbah hari Jum’at di padang Arafah.” (HR. Bukhori : 45)
Ayat-ayat Al Quran sebagai kitab suci umat Islam diturunkan secara berangsur-angsur. Ayat-ayat itu diturunkan Allah SWT melalui malaikat Jibril kepada Rasulullah Muhammad SAW.Karena ayat Al Quran turun berangsur-angsur, para ulama membedakan menjadi dua bagian: surat Makkiyah dan Madaniyah.Surat Makkiyah diturunkan saat Rasulullah berdakwah di Makkah. Sedangkan Surat Madaniyah diturunkan saat Rasulullah berdakwah di Madinah.
Berikut ciri-ciri perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah pada konteks kalimat dan materi pembahasan, seperti dikutip dari Al Manhaj.
Perbedaan Pada Konteks Kalimat
1. Kebanyakan ayat-ayat Makiyyah memakai konteks kalimat tegas dan lugas karena kebanyakan obyek yang didakwahi menolak dan berpaling. Maka hanya cocok mempergunakan konteks kalimat yang tegas. Baca surat Al-Muddatstsir dan surat Al-Qamar.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan mempergunakan konteks kalimat yang lunak karena kebanyakan obyek yang didakwahi menerima dan taat. Baca surat Al-Maa’idah
2. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah adalah ayat-ayat pendek dan argumentatif, karena kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari, sehingga konteks ayatpun mengikuti kondisi yang berlaku. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan adalah ayat-ayat pendek, penjelasan tentang hukum-hukum dan tidak argumentatif, karena disesuaikan dengan kondisi obyek yang didakwahi.
Perbedaan Pada Materi Pembahasan
1. Kebanyakan ayat-ayat Makkiyah berisikan penetapan tauhid dan aqidah yang benar, khususnya yang berkaitan dengan Tauhid Uluhiyah dan iman kepada hari kebangkitan. Sebab, kebanyakan obyek yang didakwahi mengingkari hal itu.
Sedangkan ayat-ayat Madaniyah kebanyakan berisikan perincian masalah ibadah dan muamalah, karena obyek yang didakwahi sudah memiliki Tauhid dan aqidah yang benar sehingga mereka membutuhkan perincian ibadah dan muamalah.
2. Penjelasan secara rinci tentang jihad berserta hukum-hukumnya dan kaum munafik beserta segala permasalahannya karena memang kondisinya menuntut demikian.
Hal itu ketika disyariatkannya jihad dan timbulnya kemunafikan, berbeda halnya dengan ayat-ayat Makkiyah.
para ulama dalam menentukan definisi surat Makkiyah dan Madaniyah dengan cara sebagai berikut:
Sebagian ulama menentukan definisi berdasarkan lokasi tempat turunnya ayat atau surat dan dijadikan patokan dasar dalam menentukan definisi Makkiyah dan Madaniyah, Makkiyah ialah surat atau ayat yang diturunkan di Makkah, setelah Nabi Muhammad SAW melakukan hijrah. dan Madaniyah ialah suatu surat atau ayat yang turun di Madinah dan sekitarnya.
Sebagian ulama menentukan definisi berdasarkan orang-orang atau golongan yang menjadi sasaran ayat atau surat, dan ini dijadikan dasar dalam menentukan definisi Makkiyah dan Madaniyah, sehingga mereka mendefinisikan Makkiyah ialah suatu surat atau ayat yang sasarannya di tujukan kepada penduduk Makkah, dan sebaliknya Madaniyah sasarannya ditunjukkan kepada penduduk Madinah.
Sebegian ulama menentukan berdasarkan masa turunya surat atau ayat, sehingga mereka mendefinisikan: Makkiyah ialah suatu surat atau ayat yang diturunkan sebelum Nabi Muhammad SAW, melakukan hijrah ke madinah, meskipun turunnya di luar daerah Makkah. dan Madaniyah ialah surat atau ayat yang turunya setelah nabi melakukan hijrah meskipun turun diluar daerah Madinah.
Ciri-Ciri Surat Makkiyah:
Ayat -ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat qishar,
Kebanyakan ayat di mulai dengan bacaan "يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ". contohnya, (Fatir: 3, 5 dan 15)
Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan. ancaman, pahala, dan kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti.
Setiap surat mengandung lafadz "كَلَّآ". contohnya,(Al-fajr:17) (Al-Alaq: 6,15,dan 19)
Setiap surat didalamnya mengandung ayat-ayat sajadah, contohnya, (As-Sajadah: 15)
Setiap surat diawali dengan lafadz-lafadz singkat seperti, alif laam ra, kecuali pada surat Al-Baqarah dan Ali-Imran.
Setiap surat terdapat didalamnya kisah adam dan iblis kecuali, surat al-baqarah. contohnya, (Al-A'raf: 11)
Setiap surat yang didalamnya mengandung kisah para nabi dan umat terdahulu kecuali pada surat Al-Baqarah. contohnya:( Al-a'raf :80)
Topik Pembahasan Surat Makkiyah
Ajakan kepada tauhid dan anjuran beribadah hanya kepada allah swt. pembuktian tentang risalah kenabian, kebangkitan dan hari pembalasan, hari kiamat, neraka dan siksaanya, surga dan kenikmatannya.
Meletakkan dasar-dasar dan ketentuan umum perundang-undangan dan akhlak mulia yang menjadi dasar terbentuknya suatu masyarakat dan penyingkapan dosa orang musyrik dalam penumpahan darah, memakan harta anak yatim, penguburan hidup-hidup bagi perempuan dan tradisi buruk lainnya.
Menyebutkan kisah nabi dan umat-umat terdahulu.
Suku katanya pendek-pendek dan mempunyai arti yang dengan diperkuat lafadz sumpah.
Bukti-bukti kebenaran dan dalil-dalil yang digunakan lebih mengutamakan kebenaran agama.
Banyak menceritakan tentang orang munafik dan masalah yang disebabkan mereka.
Ciri-Ciri Surat Madaniyah:
Ayat-ayat Madaniyah panjang-panjang dan dinamai ayat tiwal. contohnya, (al-baqarah:102)
Kebanyakan firman Allah dalam surah Madaniyah dimulai dengan perkataan "يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُو " contohnya: (Al-Baqarah:172, 178)
Lebih banyak mengutarakan tetang sanksi-sanksi hukum, warisan, hak dan aturan politik, sosial dan agama
Setiap surat didalamnya disebutkan orang-orang munafik kecuali, pada surat Al-Ankabut
Setiap surat didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab. contohnya: (An-Nisa:153)
Topik Pembahasan Surat Madaniyah
Menjelaskan ibadah, muammalah, kekeluargaan, warisan, jihad, hubungan internasional, baik di waktu damai maupun di waktu perang, kaidah hukum dan masalah perundang-undangan
Seruan terhadap ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani
D. Faidah memahami perbedaan surat Makiyyah dan Madaniyyah
Memahami perbedaan antara surat Makiyyah dan Madaniyyah merupakan perkara yang sangat penting karena di dalamnya terdapat faidah yang banyak, Sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, mempelajari ilmu Makkiyah dan Madaniyah merupakan hal yang penting atau urgen. Mengetahui ilmu Makkiyah dan Madaniyah merupakan hal penting karena memiliki banyak manfaat-manfaat, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Memahami keindahan gaya bahasa Al Qur’an yang memilki tingkatan paling tinggi, karena bahasa Al Qur’an disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang menjadi obyek dakwah ketika itu, terkadang bahasanya keras dan tegas dan terkadang bahasanya lembut dan mudah disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang menjadi obyek dakwah.
2. Mengetahui hikmah diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur sesuai dengan perkara yang paling penting yang dibutuhkan masyarakat ketika itu sehingga mereka lebih mudah untuk menerima dan mengambil faidahnya.
3. Mengajarkan para da’i yang berdakwah di jalan Allah dan mengarahkan mereka untuk mengikuti metode Al Qur’an dalam hal gaya bahasa dan tema disesuaikan dengan sasaran dakwah. Dengan cara memulai dari yang paling penting kemudian yang lebih penting. Menggunakan bahasa yang tegas maupun lembut disesuaikan pada tempatnya.
4. Membedakan antara ayat yang Nasikh (yang menghapus) dengan Mansukh (yang dihapus hukumnya) sekiranya terdapat dua ayat Makiyyah dan Madaniyyah yang terlihat bertentangan dan tercapai di antara keduanya syarat-syarat Naskh (penghapusan). Jika syarat Naskh terpenuhi maka ayat Madaniyyah akan membatasi hukum ayat Makiyyah karena ayat Madaniyyah turun lebih akhir dibanding ayat Makiyyah.
5. Manfaat mempelajari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat digunakan sebagai alat bantu bagi mufassir (pentafsir) untuk menafsirkan al-Quran. Pengetahuan akan tempat turun ayat dapat membantu mufassir untuk menemukan penafsiran yang benar baik bagi yang menggunakan metode atau kaidah “umumnya lafaz” (al-Ibroh bi umum al-lafdz la bi khusus as-sabab) atau kaidah “khususnya sebab” (al-Ibroh bi khusus as-sabab la bi umum al-lafdz). Dari sana, mufassir juga dapat membedakan mana ayat yang nasikh (menghapus) dan mansukh (dihapus) maupun ayat yang takhsis (pengkhususan).
6. manfaat yang diperoleh dari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat mendalami gaya bahasa al-Quran dan mengaplikasikannya sebagai metode berdakwah. Misalnya dapat dilihat pada Makkiyah bahwa bahasa yang digunakan cenderung pendek-pendek dan berisi peringatan maupun kabar gembira. Sedangkan Madaniyah berisi kalimat-kalimat panjang yang membahas tatacara kehidupan sehari-hari baik. Dari sana, seperti halnya Makkiyah dan Madaniyah yang memiliki bahasa tersendiri dalam penyampaian dakwahnya, dapat diambil metode atau cara yang tepat dalam berdakwah yang sesuai dengan yang diajak bicara baik dari individu, keyakinan, maupun lingkungannya. Selain itu, dapat juga diperoleh bagaimana Islam melalui proses turunnya wahyu, menetapkan hukum yang bersifat selangkah demi selangkah atau taddarruj.
7. manfaat yang didapat dari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat mengetahui sejarah hidup Nabi Muhammad melalui turunnya ayat-ayat al-Quran. Membahas Makkiyah dan Madaniyah berarti juga membahas proses dan sejarah perjalanan beliau dalam berdakwah.
Selain itu, dari Makkiyah dan Madaniyah, dapat juga diketahui proses penerimaan wahyu dari wahyu yang pertama kali diturunkan hingga wahyu yang terakhir diturunkan. Juga dapat diketahui dimana wahyu itu diturunkan. Dengan kata lain, Al-Quran adalah sumber pokok kehidupan Nabi Muhammad sehingga para sejarawan yang meriwayatkan sejarah Nabi tentu harus sesuai dengan al-Quran. Apabila berbeda, tentu sejarah tersebut tertolak.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Para ulama mengatakan bahwa Makkiyah adalah ayat dan surat yang di dalamnya terdapat kata ya ayuha al-nas, sebab ayat tersebut khithab bagi penduduk makah. Adapun Madaniyah adalah terdapat kata ya ayuha al-ladzina amanuu dan dengan anggapan bahwa penduduk madinah telah menjadi muslim. Perbedaan berdasarkan tempat Para ulama beranggapan bahwa tempat rosullullah menerima wahyu sebagai dasar pembeda. Perbedaan berdasarkan waktu Yang dimaksud ialah menjadikan hijrah Nabi sebagai pembeda. Untuk mengetahui pengertian makkiyah dan madaniyah juga bisa di bedakan berdasarkan 4 teori yaitu teori geografis, teori historis, teori subjektif, dan teori content analysis.
Ada dua cara untuk mengenali ayat atau surah yang termasuk kategori makkiyah dan madaniyah, yaitu cara sima’iy adalah pengetahuan ayat dan surat makiyah dan madaniyah yang di peroleh berdasarkan riwayat, dan qiyasy adalah pengetahuan ayat dan surah makiyyah dan madaniyah berdasarkan kriteria melalui ciri khitabnya, kandungannya, redaksi, uslubnya dan sebagainya.
Ciri-Ciri Surat Makkiyah adalah Ayat -ayat Makkiyah itu pendek-pendek dan dinamai ayat qishar, Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya mengandung hal-hal yang berhubungan dengan keimanan. ancaman, pahala, dan kisah-kisah umat terdahulu yang mengandung pengajaran dan budi pekerti, Setiap surat didalamnya mengandung ayat-ayat sajadah, contohnya, (As-Sajadah: 15), Setiap surat diawali dengan lafadz-lafadz singkat seperti, alif laam ra, kecuali pada surat Al-Baqarah dan Ali-Imran dan yang lainnya.
Ciri-Ciri Surat Madaniyah yaitu Ayat-ayat Madaniyah panjang-panjang dan dinamai ayat tiwal, Kebanyakan firman Allah dalam surah Madaniyah dimulai dengan perkataan "يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُو ", Lebih banyak mengutarakan tetang sanksi-sanksi hukum, warisan, hak dan aturan politik, sosial dan agama, Setiap surat didalamnya disebutkan orang-orang munafik kecuali, pada surat Al-Ankabut, Setiap surat didalamnya terdapat dialog dengan ahli kitab. contohnya: (An-Nisa:153).
Faidah memahami perbedaan surat Makiyyah dan Madaniyyah yaitu Memahami keindahan gaya bahasa Al Qur’an yang memilki tingkatan paling tinggi, Mengetahui hikmah diturunkannya Al Qur’an secara berangsur-angsur, Mengajarkan para da’i yang berdakwah di jalan Allah dan mengarahkan mereka untuk mengikuti metode Al Qur’an dalam hal gaya bahasa dan tema disesuaikan dengan sasaran dakwah, Membedakan antara ayat yang Nasikh (yang menghapus) dengan Mansukh (yang dihapus hukumnya) dan masih banyak lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Aliyah, S. (2018, januari 9). teori "makkiyah" dam "madaniyah". Retrieved maret 20, 2021, from kompasiana.com: https://www.kompasiana.com/sayyidah12/5a548a8cbde5757ba03786f2/teori-makkiyah-dan-madaniyah?page=2
Bacamadani. (2019, september). Makkiyah dan madaniyah pengertian, dasar penetapan dan karakteristik makkiyah dan madaniyah. Retrieved maret 20, 2021, from bacamadani.com: https://www.bacaanmadani.com/2019/09/makkiyah-dan-madaniyah-pengertian-dasar.html?m=1
Blackspace. (2016, juni). perbedaan surah makkiyah dan madaniyah. Retrieved maret 20, 2021, from blackspace12.blogspot.com: http://blackspace12.blogspot.com/2016/06/perbedaan-surah-makkiyah-dan-madaniyah.html?m=1
Hidayatuna.com. (2019, november 7). pengertian makkiyah dan madaniyah. Retrieved maret 20, 2021, from Hidayatuna.com: https://hidayatuna.com/pengertian-makkiyah-dan-madaniyah
khudzilkitab. (2018, november 16). manfaat makkiyah dan madaniyah. Retrieved maret 20, 2021, from www.khudzilkitab.com: https://www.khudzilkitab.com/2018/11/manfaat-makkiyah-dan-madaniyah.html?m=1#:~:text=Pertama%2C%20Manfaat%20mempelajari%20Makkiyah%20dan,)%20untuk%20menafsirkan%20al-Quran.&text=Kedua%2C%20manfaat%20yang%20diperoleh%20dari,dan%20mengaplikasikannya%20sebag
Setiawan, H. (2020, november 5). ciri ciri perbedaan surat al quran makkiyah dan madaniyah dari sisi konteks kalimat dan pembahasan. Retrieved maret 20, 2021, from portaljember.pikiran-rakyat.com: https://portaljember.pikiran-rakyat.com/khazanah/pr-16912462/ciri-ciri-perbedaan-surat-al-quran-makkiyah-dan-madaniyah-dari-sisi-konteks-kalimat-dan-pembahasan?page=2

Post a Comment for "Makalah Makkiyah dan Madaniyyah"