Cerpen (Cerita Pendek): Hari Pertama Memulai Perjalanan Cerita Selama KKN
LEMBAR 1/45
Tibalah di tanggal 1 Juli 2022, jadwal keberangkatan mahasiswa kkn di kabupaten Bombana dan disini kami di perintahkan oleh pihak kampus untuk berkumpul di pelataran kampus pada pukul 6 pagi. Saya pun berangkat menuju kampus tepat pukul 6 pagi bersama teman kost saya yang bernama Maldi, namun kenyataanya pada saat itu masih sedikit orang yang berada di kampus hingga kami masih haru menunggu. Kami berangkat menuju kampus menggunanakan motor yang saya miliki yang kebetulan saya akan membawa motor itu untuk pergi kkn dengan alasan untuk mempermudah pergerakan kami disanan nantinya.
Terdapat sedikit cerita unik yang kami alami disini, karena kebetulan pada saat menunggu itu saya merasa lapar, jadi saya memutuskan untuk keluar kampus membeli sarapan terlebih dahulu, namun pada saat saya sarapan bunyi notifikasi pesan masuk di grup posko 112 dari Asriani.
”we, saya salah minta tolong orang angkat koperku, sa kira Slamet , malu sekali pa,”
Ternyata Asriani salah menyuruh orang yang dia kira itu saya, dan ternyata juga orang yang dia suruh itu adalah Maldi, teman kost saya yang dia bilangkan Asriani itu mukanya mirip dengan Slamet.
Setelah itu kami semua akhirnya berkumpul di pelataran kampus untuk pemberangkatan, dan sekitar jam 9 pagi akhirnya kami berjalan menuju lokasi kkn dengan 4 orang menaiki mobil yang telah disediakan oleh pihak kampus dan 3 orang naik motor menuju kesana, yang mana saya dan Defri berboncengan kemudian Asriani juga berboncengan dengan temannya yang dari posko lain, dan rute perjalanan kami ini diarahkan terlebih dahulu di kantor bupati Bombana untuk melakukan penerimaan peserta kkn secara resmi oleh pemerintah Bombana.
Singkat cerita setelah perjalanan kurang lebih 4 jam dari Kendari menuju Bombana, dan setelah juga kami selesai dari kantor bupati Bombana, kami berjalan menuju desa tempat lokasi kkn kami posko 112 yaitu di desa Lebo Ea. Perjalanan dari kantor bupati masih cukup jauh, yaitu sekitar kurang lebih 2 jam, dan pada saat itu kami berjalan menggunakan google maps untuk sampai disana.
Pada akhirnya kita mendapati perbatasan kecamatan Poleang Tengah, dan kami rasa sudah dekat dengan desa tempat kami, namun perkiraan itu salah. Setelah memasuki kecamatan Poleang Tengah, kami masih kebingungan mencari lorong dari desa kami dan hingga kami memutuskan untuk bertanya kepada warga, hingga kami diarahkan untuk masuk ke lorong kantor kecamatan Poleang Tengah kemudian di dalam nanti belok kanan untuk mengarah ke desa Lebo Ea.
Setelah itu kami akhirnya menemukan plang penanda di pinggir jalan yang bertuliskan bahwa desa Lebo Ea terus saja dengan jarak masih sekitar 5 km jauhnya. Di perjalanan kami akhirnya mendapati fakta yang diceritakan teman-teman sebelumnya yaitu jalanan masuk ke desa ini masih belum di aspal dan harus melewati hutan yang tidak ada rumah sama sekali sejauh 5 km, jujur awalnya kami masih ragu apakah jalan yang kami lewati ini benar, hingga akhrinya kami mendapati sebuah rumah namun masih hanya dua rumah saja disitu dan kami memutuskan untuk bertanya di rumah tersebut apakah benar ini jalan masuk ke desa Lebo Ea dan ternyata benar. Dan fakta lainnya yang kami dapati ketika pertama kali masuk disini yaitu memang benar tidak ada sinyal sedikitpun di desa ini, hingga jalan satu-satunya untuk kami menemui rumah kepala desa yaitu dengan bertanya.
Pada akhirnya sekitar jam 4 sore kami sampai dan menemukan rumah kepala desa, dan kami pun menyampaikan sepatah duapatah kata pembuka yang di wakilkan oleh kordes yaitu Defri bahwa kami merupakan mahasiswa kkn dari IAIN Kendari yang di tempatkan di desa ini, dan pak desa pun menerima kami lalu kemudian kami diarahkan untuk tinggal disitu saja, kemudian kami juga di perintahkan untuk makan bersama yang kebetulan disitu saya sudah sangat lapar sekali karena hanya sarapan di pagi hari saja. Dan di malam hari pertama kami tinggal disitu, kami satu posko duduk-duduk bersama di depan rumah untuk bercerita satu sama lain, disitu saya akhirnya menyadari bahwa teman-teman posko saya ini memiliki sifat yang cukup ceria dan terbuka, karena pada saat itu saya melihat mereka langsung bisa bercanda tanpa ada rasa canggung yang berlebihan lagi, walaupun masih dari mulut kita semua masih muncul sedikit keluhan terkait tidak adanya sinyal di tempat ini, dan kami juga khawatir terkait nasib laporan harian kami yang harus di input setiap harinya secara online.

Post a Comment for "Cerpen (Cerita Pendek): Hari Pertama Memulai Perjalanan Cerita Selama KKN "